Tahun 2000 akhir, pabrik tempat saya bekerja melakukan ekspansi proses dengan merambah sektor metal, khususnya shaft. Beberapa mesin CNC Lathing dan Centerless Grinding didatangkan dari Jepang, plus seorang engineer bernama Mr. Toshimasa Nishi.
Di Indonesia, Nishi-san mempunyai penerjemah yang sekaligus sebagai guru bahasa Indonesia-nya. Dia juga mempunyai kamus bahasa Jepang-Indonesia yang lengkap. Tetapi ada hal unik yang menurut saya jarang dilakukan oleh orang Indonesia. Nishi-san mempunyai pocket book yang selalu menyertainya ke manapun. Isi dari buku saku tersebut adalah “kamus” bahasa Indonesia-Jepang yang ia tulis sendiri.
Setiap dia mendengar kata dalam bahasa Indonesia yang menurut dia menarik, dia akan menuliskan di bukunya, membuka kamus, dan menuliskan arti dalam bahasa Jepang-nya. Kadang dia menulis kata yang pernah ditulis sebelumnya.
Satu tahun dia di Indonesia, dia sudah bisa berkomunikasi untuk lingkungan pabrik. Penerjemah di-PHK. Tahun berikutnya, dia sudah bisa mengerti jalan cerita suatu tayangan sinetron. Dua tahun lalu, dia sudah bisa mengerti dan membahas dengan baik Tajuk Rencana harian Kompas. Suatu pencapaian yang luar biasa menurut saya.
Ketika saya tanya bagaimana dia bisa melakukannya, dia bilang karena dia rajin menulis. Menghafal dengan cara membaca lebih jelek daripada menghafal dengan cara menulis. Semakin sering kita menuliskan sesuatu, semakin ingat kita akan sesuatu tersebut, ujarnya.
Hari Senin kemarin, saya tugas ke luar kantor. Di perjalanan, saya melihat serombongan anak sekolah menengah kejuruan yang baru pulang sekolah. Dari sekitar 5 orang tersebut, tidak seorangpun membawa tas (yang mungkin untuk membawa buku tulis). Hanya ada satu orang yang membawa satu buku tulis. Bukunya dilipat dan dimasukkan di saku belakang celananya.


