Kebiasaan Menulis

Tahun 2000 akhir, pabrik tempat saya bekerja melakukan ekspansi proses dengan merambah sektor metal, khususnya shaft. Beberapa mesin CNC Lathing dan Centerless Grinding didatangkan dari Jepang, plus seorang engineer bernama Mr. Toshimasa Nishi.

 Di Indonesia, Nishi-san mempunyai penerjemah yang sekaligus sebagai guru bahasa Indonesia-nya. Dia juga mempunyai kamus bahasa Jepang-Indonesia yang lengkap. Tetapi ada hal unik yang menurut saya jarang dilakukan oleh orang Indonesia. Nishi-san mempunyai pocket book yang selalu menyertainya ke manapun. Isi dari buku saku tersebut adalah “kamus” bahasa Indonesia-Jepang yang ia tulis sendiri.

Setiap dia mendengar kata dalam bahasa Indonesia yang menurut dia menarik, dia akan menuliskan di bukunya, membuka kamus, dan menuliskan arti dalam bahasa Jepang-nya. Kadang dia menulis kata yang pernah ditulis sebelumnya.

Satu tahun dia di Indonesia, dia sudah bisa berkomunikasi untuk lingkungan pabrik. Penerjemah di-PHK. Tahun berikutnya, dia sudah bisa mengerti jalan cerita suatu tayangan sinetron. Dua tahun lalu, dia sudah bisa mengerti dan membahas dengan baik Tajuk Rencana harian Kompas. Suatu pencapaian yang luar biasa menurut saya. 

Ketika saya tanya bagaimana dia bisa melakukannya, dia bilang karena dia rajin menulis. Menghafal dengan cara membaca lebih jelek daripada menghafal dengan cara menulis. Semakin sering kita menuliskan sesuatu, semakin ingat kita akan sesuatu tersebut, ujarnya.

Hari Senin kemarin, saya tugas ke luar kantor. Di perjalanan, saya melihat serombongan anak sekolah menengah kejuruan yang baru pulang sekolah. Dari sekitar 5 orang tersebut, tidak seorangpun membawa tas (yang mungkin untuk membawa buku tulis). Hanya ada satu orang yang membawa satu buku tulis. Bukunya dilipat dan dimasukkan di saku belakang celananya.

Produktivitas Orang Indonesia

Harian Kompas (29 Juli 2006) memuat berita dengan judul “Nelayan Asing Tetap Berpeluang”. Berikut petikan dari berita tersebut:

 “Nelayan luar negeri tetap memiliki peluang bekerja di kapal asing yang berbendera Indonesia. Komposisinya, nelayan asing bisa mencapai 70 persen sampai 90 persen, sedangkan nelayan lokal 10 persen sampai 30 persen. Namun, untuk seluruh hasil tangkapan wajib dibongkar di pelabuhan di Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddi Numbery, Jumat (28/7) di Jakarta, mengatakan, komposisi nelayan asing dan lokal itu atas kehendak pengusaha asing. Alasannya, jika semua anak buah kapal diganti seluruhnya oleh orang Indonesia, dikhawatirkan produktivitas bisa merosot.” 

Hitungan produktivitas yang umum sekarang ini adalah berapa jumlah yang bisa dibuat oleh seseorang (operator) dalam satuan waktu (misalnya 200 pcs/jam). Lima belas tahun yang lalu, Pak Anang Zaini Gani – guru saya, mengajarkan terminologi bahwa produktivitas erat hubungannya dengan efisiensi (input oriented) dan efektivitas (output oriented). Jadi, produktif merupakan optimasi dari efisien dan efektif. Beliau, memberikan contoh sederhana tentang masalah efisien dan efektif ini. Kalau membunuh satu tikus dengan granat, kata beliau, itu efektif tapi tidak efisien. Jadi, tidak produktif.

Jika buruh di Jepang dapat membuat suatu barang 500 pcs per jam sedangkan buruh di Indonesia hanya bisa membuat barang yang sama (dengan kualitas yang sama) sebanyak 300 pcs per jam, apakah buruh di Jepang lebih produktif daripada buruh di Indonesia? Kalau output oriented, jawabannya adalah ya.

Upah buruh di Jepang sekitar JPY 100.000 per bulan atau sekitar JPY 580 per jam, sedangkan upah buruh di Bekasi (di Bekasi termasuk yang tertinggi di Indonesia) sekitar JPY 11.000 atau sekitar JPY 48 per jam. Labor cost untuk kasus di atas adalah JPY 1.16/pc(s)/jam untuk buruh di Jepang, dan JPY 0.16/pc(s)/jam untuk buruh di Indonesia. Jadi akan lebih ekonomis bila memproduksi barang tersebut di Indonesia daripada di Jepang.

Berita Kompas tadi, tidak menyebutkan berapa labor cost untuk nelayan asing. Bagi pengusaha, baik asing maupun lokal, yang hanya berorientasi profit, faktor produktivitas rendah untuk nelayan lokal bisa dikesampingkan jika labor cost-nya lebih rendah daripada nelayan asing. Berarti ada faktor lain yang menyebabkan pengusaha asing tersebut lebih suka memakai tenaga nelayan asing.

Dari pengalaman saya di pabrik, bekerja dengan orang asing (Jepang) maupun orang Indonesia, skill orang Indonesia tidak kalah dengan orang Jepang, bahkan ada beberapa yang lebih bagus. Tapi ada beberapa hal yang membedakannya, yaitu bahwa mereka (orang Jepang):

  • lebih jujur, tidak manipulatif terhadap data maupun kondisi (kalau tidak tahu, ya bilang tidak tahu)

  • lebih konsisten dalam bekerja

  • punya rasa malu dan segera minta maaf jika melakukan kesalahan atau tidak bekerja dengan baik (orang Indonesia lebih pintar dalam mencari alasan untuk pembelaan diri).

Saya kira walaupun kerja nelayan lokal lebih banyak menghasilkan ikan, jika etos kerjanya tidak lebih baik, pengusaha asing akan masih tetap menggunakan tenaga nelayan asing. Sebaiknya perbaiki dahulu etos dan moral kerja, karena pada akhirnya, hal ini akan berpengaruh pada produktivitas.

Just for learn …

Just for learn … and learn … and learn.

Kalimat di atas saya jadikan title di blog saya karena saya menulis di sini dalam rangka belajar. Yang saya tulis di sini adalah pengalaman dan pengetahuan saya selama bekerja di beberapa pabrik yang kebetulan semuanya adalah PMA Jepang. Jadi mohon pengertiannya jika banyak istilah dan pola pikir yang Japanese minded.

 

Sekali lagi, ini dalam rangka belajar. Oleh karena itu, untuk memperkaya pengetahuan saya, mohon dikoreksi jika ada beberapa hal yang karena kekurangtahuan saya, mengandung pernyataan-pernyataan yang tidak benar, baik secara teori maupun praktisnya.